ANAK
TONGKRONGAN NGGA SELALU NAKAL
Anak zaman dahulu kalo pulang
sekolah langsung pulang rumah, beda banget sama anak sekarang pulang sekolah
malah nongkrong dulu contohnya kaya gue yang selalu nongkrong sama temen-temen
sekolahan. Selain pulang sekolah selalu nongkrong, kalo di sekolah gue jarang
masuk kelas salah satu tempat nongkrong favorit gue di sekolah ya kantin.
Sebelum pelajaran dimulai gue udah janjian sama temen-temen buat nongkrong di
kantin. Soalnya saat pelajaran sedang berlangsung dan sedang belajar dengan
guru killer itu gue gak suka banget. Saat itu gue langsung minta izin ke toilet
sama guru killer itu.
“Pak, Saya izin mau ke toilet?”
“Ya, Silahkan, jangan lama-lama.”
“Ya, Pak.”
“Ya, Silahkan, jangan lama-lama.”
“Ya, Pak.”
Setelah diizinkan pak guru, gue langsung ke kantin menemui
temen-temen yang sudah nunggu. Euuu… kenapa gue milih kantin untuk nongkrong
karena tempatnya luas, banyak makanan dan minumman. Jadi, terasa sesansi
keasyikannya untuk mengobrol, karena keasyikan nongkrong tiba-tiba terdengar
bel berbunyi gue dan temen-temen cabut ke kelas. Tak sengaja gue berpapasan
dengan guru killer di depan kelas.
“Kalian darimana aja!”
“Saya dari toilet pak.”
“Dari toilet apa dari kantin!”
“Bener pak dari toilet.”
“Dasar kalian gak pernak ikut pelajaran di sekolah bisanya cuman nongkrong-nongkrong doang, mau jadi apa kalian!”
Setelah marah-marah guru killer itu pergi, gue masuk kelas dengan muka jengkel, lalu terdengar ada pengumuman kalau hari ini pulang lebih awal karena ada rapat guru.
“Saya dari toilet pak.”
“Dari toilet apa dari kantin!”
“Bener pak dari toilet.”
“Dasar kalian gak pernak ikut pelajaran di sekolah bisanya cuman nongkrong-nongkrong doang, mau jadi apa kalian!”
Setelah marah-marah guru killer itu pergi, gue masuk kelas dengan muka jengkel, lalu terdengar ada pengumuman kalau hari ini pulang lebih awal karena ada rapat guru.
Gue dan teman-teman diajak Elios main ke rumahnya karena orangtua
Elios lagi di luar kota. Jadi gue dan temen-temen langsung pergi ke rumah Elios
tanpa ganti seragam. Sampai di rumah Elios kita nongkrong sambil main musik,
main game, bercanda, bikin gaduh di rumah Elios. Ternyata dari kegaduhan itu
ada tetangga seberang rumah elios yang merasa terganggu dengan suara gaduh gue
dan temen-temen di rumah Elios. Ibu rumah Elios mendadak mendatangi kami dengan
raut wajah yang sangat marah.
“Kalian bukannya pulang sekolah langsung ke rumah malah
nongkrong-nongkrong gak jelas. gak ada manfaatnya, bikin gaduh tetangga, anak
saya juga gak bisa tidur karena suara berisik kalian, emang gak pernah diajarin
sama orangtua atau guru kalian.”
“Ya bu kami minta maaf kalau sudah mengganggu kenyamanan ibu.”
“Ya bu kami minta maaf kalau sudah mengganggu kenyamanan ibu.”
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras di jalanan depan rumah,
kami kaget kemudian langsung berlari kejalan dan liat ada anak kecil tergeletak
di jalan dengan luka yang bersimpah darah. Lalu ibu itu kaget saat melihat anak
kecil yang tergeletak di jalan ternyata anaknya.
“Asstaghfirullah, siapa yang menabrak anak saya?”
Ibunya melihat darah anaknya yang bercecran di jalan seketika itu
ibu itu lemas dan pingsan, karena tidak kuat melihat darah anaknya. Gue sama temen-temen
bergegas membagi tugas, salah satu temen gue Bryan mengejar pelaku tabrak lari
tersebut, dua dari temen gue Elios dan Roy memapah ibu tersebut ke rumahnya.
Gue dan teman-teman yang lain bergegas membawa anak itu ke rumah sakit
terdekat, sesampainya di sana suster dan dokter membawa anak itu langsung pergi
ke ruang UGD dan segera ditangani oleh dokter.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan UGD dan
bertanya ke gue.
“Siapa yang bertanggung jawab?”
“Saya Dok, begaiman keadaan anak itu Dok?”
“Anak itu kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah, dan segera membutuhkan donor golongan darah A.”
“Siapa dari kalian yang mempunyai golongan darah A?, karena anak tersebut membutuhkan donor darah segera.”
“Saya Dok, golongan darah saya A.”
“Oke, ayo segera kita ambil darah kamu.”
“Siapa yang bertanggung jawab?”
“Saya Dok, begaiman keadaan anak itu Dok?”
“Anak itu kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah, dan segera membutuhkan donor golongan darah A.”
“Siapa dari kalian yang mempunyai golongan darah A?, karena anak tersebut membutuhkan donor darah segera.”
“Saya Dok, golongan darah saya A.”
“Oke, ayo segera kita ambil darah kamu.”
Gue sama Dokter pergi ke ruang
transfusi darah untuk ambil darah gue. Setelah selesai mengambil darah gue,
Dokter segera membawa darah ke ruang UGD. Ketika gue dan temen-temen sedang
menunggu di depan ruang UGD, tiba-tiba datang Bryan bilang kalau tidak berhasil
mengejar pelaku tabrak lari tadi. Beberapa menit kemudian datanglah Elios, Roy,
dan Ibu anak tersebut. Ibu it sangat panik atau gelisah ingin segera ingin
mengetahui tahu kondisi anaknya, gue mencoba menenangkan ibu tersebut kalau
anaknya sudah ditangani oleh Dokter. Beberapa menit kemudian Dokter keluar dari
ruang UGD, dan memberi tahu kondisi anak tersebut, ibu itu langsung menghampiri
Dokter dan bertanya.
“Bagaimana keadaan anak saya Dok?”
“Anak ibu sudah tertolong, berkat anak-anak itu yang segera membawa anak ibu ke rumah sakit.”
“Jika tadi tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin anak ibu tidak akan tertolong. Karena benyak kehilangan darah.”
“Berterima kasihlah pada anak-anak tersebut karena mereka anak ibu selamat, dan salah satu dari mereka bersedia mendonorkan darahnya untuk anak ibu.” Kata dokter
“Bagaiman dengan biayanya Dok?, kerena saya tidak punya uang banyak untuk biaya rumah sakit, buat hidup sehari-hari juga kurang, suami saya juga sudah meninggal, dan saya hanya bekerja sebagai buruh cuci.” Kata ibu
“Kalau masalah pembayaran biaya nanti dulu yang penting anak ibu sudah tertolong.” Kata Dokter
“Anak ibu sudah tertolong, berkat anak-anak itu yang segera membawa anak ibu ke rumah sakit.”
“Jika tadi tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin anak ibu tidak akan tertolong. Karena benyak kehilangan darah.”
“Berterima kasihlah pada anak-anak tersebut karena mereka anak ibu selamat, dan salah satu dari mereka bersedia mendonorkan darahnya untuk anak ibu.” Kata dokter
“Bagaiman dengan biayanya Dok?, kerena saya tidak punya uang banyak untuk biaya rumah sakit, buat hidup sehari-hari juga kurang, suami saya juga sudah meninggal, dan saya hanya bekerja sebagai buruh cuci.” Kata ibu
“Kalau masalah pembayaran biaya nanti dulu yang penting anak ibu sudah tertolong.” Kata Dokter
Kemudian Ibu itu berterima kasih kepada gue dan temen-temen gue.
Karena sudah menolong anaknya.
“Terima kasih Elios dan teman-temannya kerena sudah membawa anak saya ke rumah sakit, dan mendonorkan darahnya untuk anak saya.”
“Sama-sama bu.”
“Maaf sebelumnya ibu sudah memarahi kalian di rumah Elios.”
“kami juga minta maaf bu sudah mengganggu ibu dengan suara gaduh di rumah Elios.”
“Ternyata ibu salah dengan menilai kalian negatif yang kira ibu anak nongkrong itu gak ada positifnya Cuma bisanya bikin onar ternyata itu salah, sebenarnya kalian mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi dan mau menolong sesama.”
“Iya bu sama-sama kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong.”
“Oh ya saya mau tanya, siapa yang tadi mendonorkan darahnya untuk anak saya?” kata ibu
“Saya bu temennya Elios yang tadi mendonorkan darah ke anak ibu.” Kata gue
“Makasih ya nak sudah mau mendonorkan darah buat anak saya bu.” Kata ibu
“Sama-sama bu, mungkin soal pembayaran rumah sakit mungkin kami bisa membantu sedikit.”
“Terima kasih ya, jika kalian mau meringankan biaya rumah sakit. Bagaimana cara agar ibu bisa membalas perbuatan ini semoga kalian diberikan rezeki yang berlimpah dan menjadi anak yang soleh, amin.”
“terima kasih kembali bu. Tidak apa-apa mungkin itu yang bisa kami bantu dan makasih atas doanya bu, amin. Oh ya kami mau pamit pulang karena sudah larut malam.”
“oh ya kalau begitu, hati-hati di perjalanan.”
“Terima kasih Elios dan teman-temannya kerena sudah membawa anak saya ke rumah sakit, dan mendonorkan darahnya untuk anak saya.”
“Sama-sama bu.”
“Maaf sebelumnya ibu sudah memarahi kalian di rumah Elios.”
“kami juga minta maaf bu sudah mengganggu ibu dengan suara gaduh di rumah Elios.”
“Ternyata ibu salah dengan menilai kalian negatif yang kira ibu anak nongkrong itu gak ada positifnya Cuma bisanya bikin onar ternyata itu salah, sebenarnya kalian mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi dan mau menolong sesama.”
“Iya bu sama-sama kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong.”
“Oh ya saya mau tanya, siapa yang tadi mendonorkan darahnya untuk anak saya?” kata ibu
“Saya bu temennya Elios yang tadi mendonorkan darah ke anak ibu.” Kata gue
“Makasih ya nak sudah mau mendonorkan darah buat anak saya bu.” Kata ibu
“Sama-sama bu, mungkin soal pembayaran rumah sakit mungkin kami bisa membantu sedikit.”
“Terima kasih ya, jika kalian mau meringankan biaya rumah sakit. Bagaimana cara agar ibu bisa membalas perbuatan ini semoga kalian diberikan rezeki yang berlimpah dan menjadi anak yang soleh, amin.”
“terima kasih kembali bu. Tidak apa-apa mungkin itu yang bisa kami bantu dan makasih atas doanya bu, amin. Oh ya kami mau pamit pulang karena sudah larut malam.”
“oh ya kalau begitu, hati-hati di perjalanan.”
Keesokan harinya gue dan temen-temen berencana membuat sumbangan
untuk anak tadi di sekolah. Kami mengumpulkan uang pas jam istirahat. Setelah
selasai mengumpulkan uang yang lumayan banyak gue dan temen-temen kembali ke kelas
dan kami berpapasan guru killer di depan ruang guru.
“Sedang apa kalian?”
“Kami sedang mengumpulkan uang untuk membantu anak yang tertabrak lari di dekat rumah Elios.”
“Apa itu benar, kalian tidak berbohong kan?”
“Tentu tidak pak. Kami mengumpulkan uang bukan untu hura-hura yang tidak jelas.”
“Bagus sekali kalian ternyata memang murid yang hebat meskipun jarang masuk kelas, tetapi kalian berjiwa sosial yang sangat tinggi. Namun kalian harus berubah untuk rajin mengikuti jam pelajaran.”
“Ia pak terima kasih atas nasehat bapak. Kami akan usaha kan untuk rajin masuk jam pelajaran dan tidak akan lagi ngecot.”
“Ya sudah teuskanlah niat baik kalian itu, bapak hanya bisa memberi sedikit. bapak pergi dulu.”
“Iya pak sama-sama.”
Guru killer itu menyumbangkan uangnya juga lumaya besar. Akhirnya setelah gue dan temen-temen menghitung uangnya terkumpul sangat banyak dan mungkin bisa melunasi juga pembayarannya.
“Kami sedang mengumpulkan uang untuk membantu anak yang tertabrak lari di dekat rumah Elios.”
“Apa itu benar, kalian tidak berbohong kan?”
“Tentu tidak pak. Kami mengumpulkan uang bukan untu hura-hura yang tidak jelas.”
“Bagus sekali kalian ternyata memang murid yang hebat meskipun jarang masuk kelas, tetapi kalian berjiwa sosial yang sangat tinggi. Namun kalian harus berubah untuk rajin mengikuti jam pelajaran.”
“Ia pak terima kasih atas nasehat bapak. Kami akan usaha kan untuk rajin masuk jam pelajaran dan tidak akan lagi ngecot.”
“Ya sudah teuskanlah niat baik kalian itu, bapak hanya bisa memberi sedikit. bapak pergi dulu.”
“Iya pak sama-sama.”
Guru killer itu menyumbangkan uangnya juga lumaya besar. Akhirnya setelah gue dan temen-temen menghitung uangnya terkumpul sangat banyak dan mungkin bisa melunasi juga pembayarannya.
Beberapa hari kemudian gue dan temen-temen kembali ke rumah sakit
menjenguk anak ibu tersebut untuk memberi sumbangan dari teman-teman sekolah
dan juga guru-gurunya untuk melunasi biaya rumah rumah sakit. Setelah
menyelesaikan Administrasi biaya rumah sakit. Anak itu sudah bisa dibawa pulang
meskipun masih masa penyembuhan, gue dan temen-temen juga sekalian mengantarkan
anak ibu itu pulang.
Akhir dari cerita ini bisa kita
ambil nilai positifnya atau nilai edukasinya bahwa kegiatan yang tadinya
nongkrong-nongkrong doang bisa menolong sesama dan dinilai positif bagi
masyarakat.
No comments:
Post a Comment